
Hampir semua orang di Jawa Tengah kini merasa tidak asing lagi mendengar slogan ”Bali Ndeso Mbangun Deso”, awalnya slogan ini muncul dalam dengungan kampanye Pilgub Jateng sehingga menghantarkan Bibit Waluyo sebagai Gubernur terpilih di Jawa Tengah.
Slogan ”Bali Ndeso Mbangun Deso” telah menjadi mainstrem baru pembangunan di Jawa Tengah. Namun di sisi lain ternyata masih banyak yang meragukan rumusan aplikasi dan operasional di lapangan, karena dipandang akan susah dalam prakteknya sehingga slogan ini hanya indah dalam retorika.
Bahkan dengan seloroh seorang teman mengatakan Kota Tegal ngak harus mengikuti slogan ini. Barangkali dalam pikiran teman saya karena merasa diri sebagai orang ”kota” dengan trend merk kemajuan dan terpelajar, maka merasa akan jatuh mentalnya ketika harus ”ndeso” sebagai terminologi yang lebih lekat pada kebodohan, ortodok dan katro. Sehingga muncul guyonan apakah ”Bali Ndeso Mbangun Deso” itu hasilnya cuma upacara luar biasa? .
Dalam pikiran teman saya terminologi deso adalah hamparan hijau, kuning padi sawah dan simbol agraris lain seperti pasrah, nrima dan saderma sauripe. Sementara terminologi kota dalam benak kita adalah deru pabrik dengan aktifitas mesin, cerobong pabrik, hiruk pikuk pekerja dan perdagangan dalam level tradisional maupun modern yang marak sebagai simbol simbol metropolis. Tentunya, untuk menghadirkan perubahan terminologi ini bukanlah sesuatu yang mudah.
Slogan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, "Bali Ndeso Mbangun Deso", semestinya harus diapresiasi secara rinci dan serius, karena hal itu tidak bisa diartikan secara harfiah. Itu merupakan sebuah spirit yang hendak ditiupkan dalam nafas pembangunan sebuah daerah.
Kegamangan dalam menyikapi slogan ini banyak datang dari berbagai kalangan, bahkan anggota Komisi C DPRD Jateng Imam Munajad dalam diskusi terbatas konsep "Bali Ndeso Mbangun Deso" di Kota Semarang, Rabu (12/11), mengatakan "Kami menilai konsep itu baru merupakan dasar pemikiran. Masih perlu disempurnakan dari berbagai aspek dan dijabarkan secara detail,"
Penjabaran konsep tersebut memang masih perlu dijabarkan secara konseptual dan operasional. Sehingga implementasi di lapangan tidak hanya indah di telinga dan paparan visi dan operasionalnya menjadi jelas.
Menanggapi hal itu, Bibit mengatakan, implementasi konsep tersebut akan dilakukan bertahap. Saat ini pihaknya memasuki tahap pertama, yaitu konsolidasi. Bibit juga berencana membuat buku untuk menjabarkan slogan andalannya, "Bali Ndeso Mbangun Deso".
Dimana nantinya konsep ini perlu diuji dari berbagai segi, yaitu secara akademis, filosofis, serta implementasinya. Sehingga visi menuju masyarakat sejahtera dengan slogan tersebut pun dijabarkan. Slogan ini paling tidak memiliki akselerasi pada enam misi, yaitu pemerintahan yang bersih dan profesional, pemberdayaan ekonomi berbasis kerakyatan, pemberdayaan sosial dan budaya berbasis kearifan lokal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyiapan infrastruktur, serta menciptakan kondisi aman bagi masyarakat.
Oleh karenanya, konsepsi "Bali Ndeso Mbangun Deso” nantinya tidak diartikan secara dangkal pada fokus pembangunan berbasis pada pertanian. Meskipun sebagian besar penduduk Jawa Tengah bertumpu pada bidang pertanian, namun pemerintah daerah harus memberi perhatian yang menyeluruh dan terperinci.
Meskipun konsep ”Bali Ndeso Mbangun Deso” tidak akan termanifestasi tanpa memperhatikan sektor pertanian. Bisa jadi bidang ini yang akan menjadi kunci kesuksesan pemerintah daerah dalam memeratakan pembangunan. Karena itulah, regulasi pemerintah di bidang pertanian harus menyeluruh menyangkut seluruh aspek, baik produksi, distribusi, pemasaran dan konsumsi. Sektor pertanian tetap akan menjadi prioritas, tetapi sementara itu sektor lain berjalan secara simultan.
Namun pada intinya konsepsi pembangunan ini harus diletakkan pada kerangka kerja mengenai tolok ukur desa yang ideal. Konsepsi pembangunan dimana mulainya tolok ukur pembangunan dari pemerintahan terkecil yaitu desa. Sehingga jika desa-desa di Jawa Tengah maju maka maju pula kota , kabupaten, propinsi dan negaranya.
Salah kelola
Besarnya jumlah transmigran dari Jawa Tengah paling tidak dapat dijadikan parameter tunggal kegagalan pembangunan di Jawa Tengah terutama dalam mensejahterakan warganya. Bagaimanapun potensi besar yang dimiliki oleh Jawa Tengah, transmigrasi tetap saja menjadi sebuah ironi. Terlebih ketika perpindahan penduduk ini didasari oleh keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan di tanah seberang.
Jelas tidak terlalu membanggakan jika Jawa Tengah harus terus menerus mengirim transmigran. Dalam rapor hasil kerja pemda transmigrasi, sebagaimana urbanisasi, menjadi angka merah yang sebaiknya segera dihitamkan dengan konsep ” Bali Ndeso Mbangun Deso” ini. Karena bagaimanapun tipografi, iklim dan kesuburan tanah Jawa Tengah sebenarnya begitu memanjakan. Benar jika dikatakan seperti tanah surga hingga tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Jika rakyatnya justru miskin, hingga harus mencari makan ke pulau lain, yang harus dipertanyakan; mungkinkah kita telah salah kelola ?
Barangkali mereka bisa belajar dari motivasi merantaunya masyarakat ”warteg” Tegal, mereka merantau di kota-kota besar untuk berdagang warteg sebagai pengisi waktu luang usaha tani mereka di desa. Hal ini hanya soal manajemen pengisi waktu luang menunggu jeda masa panen. Meski banyak juga dari mereka yang secara total berkecimpung dalam usaha warteg, tetapi secara psikologis mereka tetap terikat dengan tanah kelahiran dengan jalan model usaha aplus di antara keluarganya menjadikan ruang sirkulasi usaha mereka tidak suntuk di luar kota.
Pola-pola usaha model ”warteg” ini bisa menjadi salah satu model urbanisasi yang berdampak positif. Sejalan dengan itu konsepsi ”Bali Ndeso Mbangun Deso” ala kota Tegal bisa dijalankan, dimana warga Warteg pernah melakukan penyisihan satu piring tiap warung untuk membantu pembangunan kampung halamannya. Jika saja tradisi ”sapiring nggo kampung” ini diteruskan, dampaknya akan sangat luar biasa bagi pembangunan kampung halaman. Barangkali, hal ini bisa menjadi konsepsi nyata ”Bali Ndeso Mbangun Deso” ala Warteg.
Turah Untung adalah Staf Humas dan Protokol Setda Kota Tegal.
Alamat : Jalan Samadikun No.5
Kelurahan Debong Kidul Rt:04/I
Tegal Selatan.52138





