Kampanye Tematis Pilwalkot Tegal

E-mail Print PDF
”Menguasai musuh tanpa mengambil jalan perang adalah cara yang paling disukai?” Sepenggal kata bijak jenderal Prusia yang terkenal, Carl von Clausewitz patut dikemukakan ketika hari-hari kampanye pilwalkot Tegal telah dimulai. Namun,  yang perlu diingat dalam sebuah pergumulan politik selalu ada dua pengertian yang lekat antara strategi dan taktik.  

Dalam strategi, ada tujuan-tujuan jangka pendek yang hedak dicapai melalui taktik. Sebaliknya, tanpa strategi, taktik tidak ada gunanya. Kampanye dalam budaya politik mengunakan unsur-unsur strategi dan taktik. Di banyak negara demokrasi target politik sering dilihat dalam jangka pendek dengan jalan pragmatis.

 

Politik sebagian besar dikuasai oleh pertimbangan- pertimbangan taktis, perilaku taktis serta tindakan yang bersifat jangka pendek. Akibatnya, terkadang  terjerumus pada tindak pragmatis. Hal ini nampaknya tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia ketika  terjebak pada euporia pemilihan langsung, misal pada pilkada.

 

Aspirasi masyarakat bisa saja ekstrem seperti perubahan dramatis dalam pelaksanaan pilgub Jabar dan Sumsel yang lalu dimana partai-partai besar terjungkal oleh partai kecil. Tetapi masyarakatpun bisa berlaku konservatif seperti pada pilgub Jateng dan Jatim.

 

Jika  kondisi ini tidak disikapi maka tidak menutup kemungkinan pada pilwalkot Tegal akan terjadi perubahan yang dramatis sebagai buah dari dinamisnya tuntutan dan keinginan politik masyarakat kota Tegal.

 Tematis 

Kampanye yang tengah berjalan merupakan wahana yang bersifat strategis dan taktis. Barangkali dapat dikatakan  strategi karena kampanye ini bisa diibaratkan membeli sebotol anggur ketika Anda mengajak seorang wanita dalam makan malam. Sedangkan taktik adalah bagaimana membuat wanita tersebut meneguk anggur selanjutnya bisa diajak tidur bersama.

Meskipun kampanye itu bersifat pragmatis, tetapi diharap tidak terjebak asbun. Oleh karenanya mulai menyentuh pada masalah-masalah tematis dan mulai menggeser cara-cara pragmatisme dangkal.

 

Kemenangan kandidat sangat ditunjang ketika ia berakrobatik memainkan isu kampanye. Keadilan sosial barangkali akan menjadi faktor yang jauh lebih penting, disusul masalah tenaga kerja dan pendidikan akan menjadi isu sentral kampanye pilwalkot. Meskipun bobot masing-masing bidang sangat berbeda.

 

Pemilih di pinggiran akan lebih mengutamakan keadilan sosial dan perekonomian, sedangkan pemilih perkotaan akan banyak menuntut perbaikan ekonomi, juga lapangan kerja dan pendidikan justru menjadi faktor yang lebih penting. Pada dasarnya substansi pembahasan tema kampanye ini akan lebih menentukan motivasi pemilihan untuk pemilih rasional yang banyak di pusat kota karena mereka relatif melek politik.

 

Sementara bagi pemilih tradisional komposisi figur akan sangat menentukan hasil pemilihan akhir. Bagi mereka pilihan kandidat yang ditawarkan sangat menentukan. Mereka gampang termobilisasi karena loyal atau memiliki ikatan jangka panjang terhadap sosok kandidat. Untuk pemilih rasional yang terpusat di perkotaan akan memilih menurut substansi program. Pemilih rasional ini akan melakukan pemilihan berdasarkan tawaran program selebihnya melihat faktor lain.

 

Celakanya, ketika pemberian suara kepada kandidat lebih besar ditentukan oleh faktor pragmatisme. Dengan demikian, figur kandidat mengesampingkan pertimbangan substansi program. Barangkali hal ini bisa terjadi pada pemilih emosional yang berorentasi pada militansi semu (uang atau barang). Harapannya, dalam pilwalkot Tegal bisa memunculkan peran pribadi kandidat (personalisasi) yang konsekuen dan dapat diinterpretasikan sebagai teori kepahlawanan politik.

 

Sejalan dengan perkembangan ini diharapkan setiap kampanye selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang konsekuensi politik dari pilwakot, yakni tentang peluang dilakukannya reformasi dan perspektif pembelaan aspirasi rakyat. Pertanyaannya ini tidak hanya berhenti di sini saja, namun masih ada pertanyaan-pertanyaan lain, yakni tentang munculnya faktor-faktor yang menentukan sikap pemilih dalam pilwakot tersebut, tentang arti kondisi ekonomi dan tentang pengaruh personalisasi yang meliputi moralitas figurnya.

 

Perbedaan yang muncul dan diperkuat dengan konstelasi aktual figur kandidat  dalam pilwalkot Tegal. Mereka yang berhasil meraih kesuksesan adalah yang mampu mepresentasikan keyakinan politik mereka secara kompak dan utuh, dan dengan talenta politik yang sangat menonjol. Kompetensi sebagai kunci keberhasilan akan membentuk mayoritas secara struktural dalam bentuk artikulasi pilihan.

 

Dengan kata lain, pemilih sewaktu-waktu bisa saja menjadi “musuh” di kemudian hari dan menyumpahi, ketika tidak adanya visi dan kinerja yang dianggap kredibel. Hal ini sering terjadi ketika meletakan penampilan tokoh sebagai daya tarik utama tanpa memandang kapabilitas. Artinya, penampilan kandidat yang sensasional lebih menyihir sebagai daya tarik, daripada visi dan program.

 

Ketika faktor visi dan program cenderung dikorbankan, oreintasi pemilih hanya melihat penampilan. Padahal dalam pemilu-pemilu sebelumnya terbukti bahwa program-program yang meyakinkan dapat menarik pemilih dan pada gilirannya memenangkan mayoritas suara. Memang benar dalam masyarakat yang majemuk dibutuhkan orientasi pada politik.

 

Namun, orientasi ini tidak melulu bisa disamakan dengan mengikuti arus pragmatisme dan kemudian melupakan isi konsep. Yang harus diutamakan dalam kampanye bukan lagi retorika-retorika kosong atau pola-pola umbar janji. Karena pemilih memiliki antena yang lebih peka untuk menilai kemampuan ini daripada yang diperkirakan pelaku politik.

 Hari Pencoblosan 

Tanggal 26 Oktober adalah hari pencoblosan, dimana semua yang memanas pada akhirnya meredup. Saat itulah para kandidat akan mengetahui apakah strategi yang mereka rencanakan, diorganisasikan dan diterapkan dalam waktu yang relatif lama akan membawa keberhasilan atau tidak kepada mereka.

 

Kemudian kemenangan akan ditentukan pada pemilu. Dengan menganalisa faktor-faktor: pada pemilih mana kandidat mendapatkan suara terbanyak. Apakah ada pada pilihan gender, apakah rakyat  memilih dengan sentimen idiologis. Atau barangkali dalam pandangan strategis parpolnya.

  

Hasil pemilihan sangat ditentukan apakah kampanye yang dijalankan  bisa terserap di masyarakat. Pada hari itu akan terlihat apakah strategi-strategi yang telah mereka rencanakan, susun dan implementasikan berhasil atau tidak. Apakah strategi-strategi itu mengantarkan kandidatnya pada kemenangan atau kekalahan. Akan tetapi, untuk Calon Terpilih prosesnya belum berakhir di hari menentukan itu. Karena si pemenang selanjutnya harus membuktikan kekuatan mengemban aspirasi rakyat yang telah memilihnya dan merealisasikan janji-janjinya yang dilontarkan dalam kampanye.

 

Apabila terlihat atau terbukti bahwa sebuah strategi hanya ditujukan pada kemenangan jangka pendek, maka setidaknya dalam sistem pemilu langsung ada kemungkinan untuk menghukum si pemenang dan parpol pengusungnya pada pemilihan yang akan datang tidak usah dipilih kembali. Sebaliknya yang kalah harus belajar dari kesalahan mereka karena kekalahan itu berarti bahwa sosok kandidat , program-program dan starateginya tidak meyakinkan pemilih.

 

Gambaran seperti ini berguna untuk melihat apakah ada perbedaan antara preferensi pemilih dan personalisasi kandidat. Analisis ini berangkat dari pengamatan yang cukup kritis terhadap jalannya lembaga legislatif yang kini banyak didera kasus korupsi. Pendeknya,  jangan puas dengan penampilan figur, isinya juga perlu diasah.

 

Karena itu, yang perlu ditonjolkan sebetulnya adalah kemampuan kandidat  dan mayoritas pemilih dapat diyakinkan dengan program-program yang meyakinkan serta moralitas yang terjaga. Karena fenomena golput yang marak sekarang merupakan artikulasi kekecewaan masyarakat terhadap lembaga permilu dan sebagai motivasi penghukuman terhadap kandidat pilihannya yang dipandang tidak memihak rakyat.

   

Turah Untung

Mahasiswa STIMIK-AMIK Tegal

Alamat Rumah : Jalan Samadikun No.5  Debong Kidul Rt:02/I

Tegal Selatan.52139

 




Bursa Rumah/Tanah

Butuh Uang
Dijual Rumah tinggal, SHM. LT +/- 330 m2, Satu rmh utama & 2 Rmh petak,garasi,lstrk 900 W dan 450 W,Lok. Jl. Kembang II Ds. Tembok Luwung Adiwerna Tegal Peminat serius Hub: 0283-3327060, 081902000540

Statistik

Content View Hits : 74019